Tips Jual Beli Tanah Supaya Aman

Tips Jual Beli Tanah – Tanah merupakan salah satu bentuk investasi properti yang menguntungkan. Tanah memiliki nilai investasi yang tinggi, karena grafik harga jualnya selalu naik, dan tidak pernah mengalami penurunan.

Tips Jual Beli Tanah

Tips Jual Beli Tanah

Ada beberapa tahap dalam melakukan Tips Jual Beli Tanah, khususnya tanah. Cukup ribet memang, tapi hal itu harus dilakukan agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Kehadiran saksi dan Notaris atau Pejabat Pembuat Akta Tanah sangat diperlukan, untuk menjaga agar proses jual beli berlangsung dengan aman.

Mungkin saat ini Anda berminat untuk membeli sebidang tanah di suatu tempat. Jangan terburu-buru, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum membuat keputusan. Tips Jual Beli Tanah tidak sama seperti membeli barang di pasar. Oleh karena itu, Anda wajib mengetahui beberapa kondisi berikut ini:

  1. Survei Lokasi

Menurut fengshui, ada beberapa kondisi tanah yang tidak dianjurkan untuk dibeli. Tanah yang sebelumnya pernah digunakan sebagai makam, tempat ibadah, dan tempat pembuangan sampah, dikatakan tidak memiliki energi positif. Sebaliknya apabila tanah bekas sawah atau kebun, alangkah baiknya jika segera dimiliki.

Masih menurut fengshui, tanah di lokasi tusuk sate kurang baik untuk investasi, karena jarang peminatnya. Tusuk sate adalah posisi tanah yang berada tegak lurus dengan jalan di pertigaan.

Sebelum memutuskan membeli tanah, cari tahu di mana lokasinya. Hindari membeli tanah di daerah rawan banjir, atau daerah kumuh. Tanah di daerah-daerah semacam itu bukan sebuah investasi yang bagus.

Apabila Andamembeli tanah dengan maksud untuk mendirikan rumah di atasnya, carilah yang memiliki akses jalan yang baik. Selain itu, Anda perlu memeriksa tekstur tanah. Tanah yang keras dan tidak mudah bergeser, seperti tanah lapang yang rata, cocok sebagai dasar bangunan.

  1. Asal-usulnya

Sebelum membeli sepetak tanah, cari tahu asal usulnya. Untuk informasi awal, Anda bisa menanyakan tentang keadaan tanah kepada si penjual. Hal-hal detail, seperti pemilik asli dan statusnya, penggunaan tanah sebelumnya, hingga latar belakang mengapa tanah itu dijual.

Bahkan bila perlu, Anda juga perlu menyelidiki asal usul penjual dan pemilik tanah tersebut, apakah memiliki riwayat kurang bagus dalam hal jual beli.

Setelah mengorek informasi dari si penjual, alangkah lebih baiknya jika Anda datang sendiri ke lokasi tanah tersebut. Beraksi seperti detektif penyelidik kasus, Anda bisa bertanya pada penduduk sekitar secara halus, agar tidak menimbulkan kecurigaan.

  1. Status tanah

Kadang kala ada tanah dijual dengan harga murah, jauh di bawah harga pasaran. Sebagai pembeli, Anda sebaiknya tidak mudah percaya. Tanah merupakan properti yang menjanjikan keuntungan besar, akibatnya sering menimbulkan konflik. Pasti ada saja ulah pihak-pihak tidak bertanggung jawab, untuk mengambil keuntungan dari konflik tersebut.

Selidiki dahulu statusnya, itu tanah sengketa atau bukan. Sengketa biasanya terjadi karena status kepemilikan yang tidak jelas atau batas tanah yang tumpang tindih. Bisa juga terkait perizinan yang berhubungan dengan kebijakan pembangunan pemerintah, seperti rencana tata kota, pelebaran jalan, pembangunan infrastruktur, dan lain-lain.

Jika tanah sengketa terlanjur dibeli, Anda akan mengalami kesulitan untuk memperoleh surat kelengkapan, seperti sertifikat hak milik dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

Selain tanah sengketa, Anda juga tidak dianjurkan untuk membeli tanah girik. Tanah girik adalah tanah yang dikuasai masyarakat pemangku adat di suatu daerah, dan mereka hanya berstatus sebagai pembayar pajak. Jika sebidang tanah memiliki sertifikat girik, artinya tanah tersebut belum memiliki surat kepemilikan resmi yang dikeluarkan pemerintah.

Sebaiknya Anda mempertimbangkan hal ini sebelum membeli. Pembelian tanah girik bisa dilakukan, tapi harus diperhatikan bahwa Anda juga harus mendaftarkan tanah tersebut kepada Badan Pertanahan Nasional untuk memperoleh sertifikat kepemilikan resmi.

  1. Surat Kelengkapan

Setiap barang berharga selalu memiliki legalitas dalam hal kepemilikannya, termasuk tanah. Negara kita mengenal beberapa bentuk surat tanda kepemilikan properti. Untuk bukti kepemilikan tanah, surat yang wajib Anda minta kepada penjual, yaitu Sertifikat Hak Milik (SHM).

Ada beberapa kasus di mana nama pemilik tanah tidak sama dengan yang tertera di sertifikatnya. Bisa jadi, tanah tersebut merupakan hasil jual beli, dan pemilik baru belum melakukan balik nama atas sertifikat yang terdahulu.

Cek sertifikat tersebut, periksa semua yang tercantum pada sertifikat apakah benar-benar valid. Mintalah Akta Jual Beli (AJB) apabila tanah tersebut merupakan hasil jual beli. Akta Jual Beli dikeluarkan oleh notaris, ditandatangani dan disaksikan oleh pihak penjual dan pembeli, serta saksi-saksi.

Anda juga perlu meminta bukti-bukti pembayaran pajak. Periksalah ketaatan pemilik dalam membayar pajak, agar saat menjadi milik Anda nanti, Anda tidak terbebani oleh tanggungan pajak tanah si pemilik lama.

Sertifikat hak milik merupakan bukti kepemilikan tanah yang kedudukannya paling kuat dalam hukum. Selain SHM, ada juga Sertifikat Hak Pakai (SHP), yaitu tanda bukti pemanfaatan tanah oleh pemilik kepada pihak lain. Ada pula sertifikat girik, seperti yang telah dibahas pada poin sebelumnya. Sertifikat girik, disebut juga dengan, Petok D, rincik, atau ketitir.

Sebaiknya Anda memeriksa surat-surat tersebut dengan teliti Tips Jual Beli Tanah, agar terhindar dari kerugian yang tidak diinginkan. Anda bisa membawanya ke Badan Pertanahan Nasional untuk dicek keasliannya.

  1. Cek Ukuran Tanah

Ketika semua hal di atas sudah Anda penuhi, kini saatnya memeriksa kondisi tanah. Anda perlu datang ke lokasi tanah yang akan dibeli untuk melakukan pengukuran. Ukuran tanah yang ada harus sama dengan angka yang tertera di Sertifikat Hak Milik maupun Akta Jual Beli. Jika tidak, pertanyakan kepada si penjual, agar segera memastikan data mana yang paling benar.